Cerita Dila
(Cerita Gak Jelas Banget)
Aku tak pernah menyangka sampai sejauh
ini, rasanya baru kemarin sore aku mengalaminya dan sejauh mana fikiran ini
menuai di keberadaanku yang kosong tiada arti. Aku ragu kalau itu adalah aku
tapi rasanya itu adalah AKU?? Serasa mimpi masih menggeliat erat di nadiku.
Yah.. MIMPI. Aku sangat berharap ini
adalah sebuah mimpi dan omong kosong belaka. Aku tak berfikir jauh untuk
memutar waktu dan mengisi waktu itu dengan lebih baik. Tidak seperti pecundang
yang takut menghadapi kenyataan. Singkat kata, apa kejadian ini hanyalah sebuah
mimpi TANDA TANYA BESAR.
“..Pethok.. pethokk..” (suara ayam
mencari mangsa)
Pagi buta yang membuat mata ini terbuka,
suara sapi menyambar keras, kambingpun tak mau kalah paduan suara sama ayam
jantan yang berkokok gagah layaknya chit-chit anak burung yang berada di sarang,
seperti ricuhnya jangkrik betina dan jantan serta tak kalah saungan manusia serigala.
???.. *HAA!!!!… mana ada serigala di kebon?? Kebanyakan nonton
GGS(Ganteng-Ganteng Siluman) nih*
“Mau kemana Di ??” Di.. Lih Dila. Dila
adalah seorang wanita yang jelas tulen, punya apa-apa (mata, alis, kuping, hidung,
telinga, mulut komplit), dia seorang muslimah yang karena nama panjangnya Dila
Muslimah.. ets.. bukan!! Dila beragama Muslim.
“Waalaikumsalam.. mau kerumah Eyang, Dan”
Dan??… Lih Danies. Seorang lelaki jelas tulen, dia adalah sahabat sekaligus
tetangga Dila dari kecil sampai dewasa ini.
“Eh lupa. Assalamualaikum maksudnya.
Bareng yuk?”
“Egak.. Duluan aja. Aku sudah sama
Bunda.”
“Emm.. yaudah aku duluan ya..”
“(IBU JARI KANAN BERDIRI)” senyap.
Siang telah berganti sore menjelang
malam. Tibalah Dila dan Ibundanya di rumah Eyangnya dengan
selamat.*Alkhamdulillah*
“Eyang, lagi sibuk apa?”
“ini Dil, Eyang mau nanam bunga
matahari”
“sini Dila bantu Eyang….. Loh koq! Loh
koq! (Berulangkali sampai 3x cukup resep dokter).”
Eyang hanya diam dan tak merespon.
Justru burung gagak yang sedari tadi lewat dan berkumandang tak menghiraukannya
sama sekali. *sama aja, Mblo!*
“Eyang,,,,, ini kenapa dengan bunga
mataharinya??” Tanya Dila heran.
“Kenapa? Ini memang benar begini nduk,
yang ditanam cukup ininya aja (kertas ada gambar bunganya) Eyang udah nanem kok
sampai 5 tahun terakhir ini..”
“Tumbuh bunga mataharinya, Eyang??”
“Egakkk…”
(Mata
Dila menatap Eyangnya berkaca-kaca, lalu mata sebelah kiri kedutan 3x
berturut-turut) “Kalau ndak bisa berbunga?? Kenapa masih ditanam Eyang??”
“Hehe.. kan ini bunga kertas yang ada
gambar bunganya ditanam di bawah terik matahari, nah jadinya kan bunga matahari,
cu..”
Gubrak!!!. Ditemukan TEWAS seketika anak
remaja berusia 17 plusplus-nya banyak tergeletak dengan mulut berbusa serta
badan kejang-kejang. Langsung dilarikan dirumah sakit terdekat.
Jadi, teman-teman perbuatan ini jangan
ditiru di rumah tanpa pengawasan orang yang benar. Jika kalian hendak menanam
bunga matahari, ingat yah beli buku panduan terlebih dahulu lalu bukunya
ditanam deh. (SAMA AJA…) Terima kasih sampai jumpa di cerita selanjutnya…….
HEHEHEHHE.. ganti WKWKW
Tidak ada komentar:
Posting Komentar